Cerita ini aku dapat dari seseorang yang telah memberikanku sebagian pelajaran kehidupan. Biasanya dia memberikan aku contoh melalui tindakan, bukan dengan rangkaian kata-kata. Namun, saat itu tepat pada tanggal 14 Maret 2010, dia mengirimkan suatu pesan melalui FB padaku. “Untuk renungan”, pesannya…
…. Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti.
Meski ke ujung samudera, pasti ku kan menunggu.
Karena kuyakin, kau hanya untukku….
Lagu populer milik Chrisye itu mengalun pelan di dalam gedung. Merdu sekali, melengkapi kebahagiaan sahabatku malam ini.
Namanya Diajeng alias Ajeng. Aku bisa mengerti betapa hari ini merupakan hari besarnya. Hari kemenangan yang menganugerahkan status baru dalam kehidupan seorang wanita, sebagai istri. Tadi pagi ijab kabul berjalan lancar, dan malamnya pesta resepsi langsung digelar. Mulai hari ini, ia tak lagi wanita single yang very happy. Yes, she is taken and very happy!
“Akhirnya aku menikah, Mas.”, begitu ucapnya kemarin malam di sela-sela upacara midodareni. “Selamat ya, Jeng. Berarti habis ini tinggal giliranku. Semoga kamu langgeng sama Mas Bagas, amin, ya Allah!”, doaku dengan kebahagiaan yang sama penuhnya.
Menikah menghijrahkan banyak hal. Mengubah yang haram menjadi halal. Yang dua menjadi satu. Yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan di usiaku dan Ajeng yang kata orang ‘sudah waktunya’ ini, dorongan untuk menikah kian datang tanpa henti. Maka beruntunglah ia yang akhirnya dapat menuntaskannya.
Resepsinya benar-benar menggugah. Seisi gedung larut dalam kebahagiaan keluarga Ajeng yang punya gawe malam ini. Para tamu seakan-akan ikut memiliki hajatan tersebut. Ditambah lagu-lagu romantis yang dibawakan dengan apik, serta makanan lezat yang ditata ciamik, lengkap sudah kesempurnaannya.
Aku sangat mengenal Ajeng. Tentang keluarganya yang manis dan harmonis, studinya yang mulus sampai lulus, hingga kariernya yang meniti dengan pasti. Begitu pula ia kepadaku, setali tiga uang. Kami sering berbagi cerita, termasuk masalah asmara yang selalu berhasil menjadi bumbu penyedap di setiap hidangan silaturahmi.
Satu hal yang aku mengerti pasti, pencapaian ini tidak diperolehnya begitu saja. Tak sesederhana menggambar gunung dan matahari, karena sebelumnya pun Ajeng telah melalui berbagai macam cobaan dalam perjalanan cintanya. Beberapa kali ia menjalin hubungan, dan sebanyak itu pula hatinya hancur berkeping-keping. Mulai dari cinta monyet, kasih tak sampai, pacaran, LDR, HTS, sampai ta’aruf menuju khitbah, ia bilang sama-sama menyedihkan kalau sudah berakhir! Namun Ajeng yang kukenal adalah seorang wanita tangguh yang bisa memaknai masalah dan mengambil hikmahnya. Ia selalu dapat bangkit, lagi dan lagi, hingga suatu hari ia bertestimoni tentang cinta.
Katanya, “Dimas, pada awalnya aku mengutuk habis semua lelaki yang pernah datang dan pergi meninggalkanku. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin dewasanya jiwa ini, penilaianku sedikit bergeser. Menurutku, mereka semua adalah manusia yang sengaja Tuhan turunkan ke bumi dengan misi mulia.”
“Kok bisa gitu, Jeng?” tanyaku lebih jauh.
“Ya…, aku hanya berpikiran kalau seharusnya aku berterimakasih kepada mereka dan tidak berlarut-larut dengan sakit hati ini. Merekalah yang membantuku belajar banyak hal. Mereka juga yang membantuku mempersiapkan diri hingga pada akhirnya nanti aku bertemu dengan pendamping hidup yang sesungguhnya, suami yang insyaAllah terbaik.”
***
Resepsi masih berlangsung. Kali ini lagu Just The Way You Are-nya Diana Krall yang dimainkan, mengalir dengan penuh kelembutan. Kalau melihat pasangan pengantin Ajeng dan Mas Bagas yang sedang berdiri di depan sana, bisa jadi testimoni Diajeng waktu itu benar. Mereka yang hari ini amat berbahagia terlihat sudah sama-sama siap. Siap lahir batin untuk saling mencintai, saling menyayangi, saling melengkapi, dan saling berbagi hidup hingga ujung waktu.
Selamat menempuh hidup baru, sahabatku! Semoga langgeng dan berbahagia selamanya, amin.
Don’t cry because it’s over. Smile because it happened. – Dr. Seuss (1904-1991) -
Terinspirasi oleh percakapan sepasang sahabat di sebuah desa, Dimas dan Diajeng.

raise a smile =)